Rainbow afterain

here I am

  • 18th May
    2013
  • 18

Memaafkan Masa Lalu

alfisyahriyani:

Lelaki itu seringkali menangis. Bahkan hingga jatuh pingsan jika mengingat tangan mungil yang menggapai-gapai ditimbun dengan tanah. Suara lugu tanpa dosa yang lenyap seketika, tergantikan oleh kesenyapan liang lahat yang begitu dingin.

Ia mungkin sudah tak lagi mengutuk-ngutuk kenangan buruk itu, tapi hatinya tak pernah bisa dibohongi. Ia yang mukanya pernah merah padam karena kelahiran anak perempuan. Ia yang pernah menyembah-nyembah roti dan menyembunyikannya di balik bantal, jika saat lapar, roti itu dimakannya. Ia yang suatu hari, pada dimensi ruang dan waktu yang berbeda menghadap Rasulullah dan mengucap dua kalimat syahadat. Hingga kata taubat terucap, air mata Umar bin Khatab masih mengalir deras jika mengingat segala kesalahan yang ia lakukan. Waktu mungkin bisa menyembuhkan, tapi memori akan tetap tersimpan sampai ajal menjelang.

Masa kita sekarang memang jauh melampaui masa Sang Khalifah, tapi sebagaimana manusia biasa, kita dan beliau tetap sama, makhluk yang tak pernah bebas dari dosa dan penyesalan. Dalam perjalanan hidup kita, mungkin satu dua kali kita pernah melakukan kekhilafan, kemudian kita terus menerus mengutuk kekhilafan itu dengan kekecewaan berlebih, keputusasaan, dan perasaan bersalah serta malu yang begitu dalam.

Namun, saat ada bisikan yang menyentil ruang batin kita, kita lantas menemukan kenyataan bahwa perasaan kecewa itu ada karena kita belum memaafkan diri sendiri. Kecil, perkara yang kecil jika dibandingkan dengan luasnya ampunan Tuhan. Seperti sejumput garam yang ditabur di atas luasnya danau. Sederhana, perkara yang sederhana jika dibandingkan dengan megahnya nikmat dari Tuhan. Karena dalam penyesalan tersebut sejatinya kita masih menyimpan rasa syukur. Syukur karena masih diberikan kesempatan untuk ‘sadar’.

Alkisah, ada seorang guru yang menyuruh anak muridnya untuk membawa bungkusan apel. Sang guru berkata kepada para muridnya, “Anak-anak, kita akan bermain gameGame-nya seperti ini, anggap apel ini adalah orang atau peristiwa yang kalian benci. Kalau kalian benci pada satu orang, taruh satu apel di dalam plastik bening, kalau dua, ya dua apel, dan seterusnya. Bawa besok ya?”

Kemudian keesokan harinya sang murid membawa bungkusan apel itu. Ada yang membawa satu, dua, hingga sepuluh apel. Sang guru meminta murid tersebut menggantungkan bungkusan apelnya di tas masing-masing. Satu dua hari belum ada masalah, hingga hari keempat, lima, lalu enam, apel itu makin membusuk dan murid-murid tak tahan dengan baunya. Hari ketujuh sang guru berkata kepada muridnya, “Apakah enak membawa apel busuk ke mana-mana?” Para murid lantas terdiam.

Setiap jalinan peristiwa adalah tempat bagi kita untuk belajar, pun pertemuan kita dengan orang per orang. Memaafkan itu sulit, tapi lebih sulit lagi jika kita memiliki hati yang kerdil. Hati yang penuh prasangka, hati yang dirundung rasa gelisah dan was-was, hati yang penuh rasa dendam. Hati yang sulit untuk lapang. Bagaimanakah bisa kita mengharapkan cinta dan ampunan Tuhan, jika maaf dan memaafkan dianggap sebagai beban?

Bahkan, Adam dan Hawa, tinggalnya mereka di bumi pun berangkat dari satu kesalahan di surga: memakan buah khuldi. Kita tak pernah tahu rasa sesal mereka seperti apa. Tapi peristiwa tersebut telah membuat milyaran turunannya hidup dalam perselisihan demi perselisihan di muka bumi. Memeras keringat, merasai kegagalan, hingga menumpahkan darah satu sama lain. Maka Adam, mengingat betapa besarnya ampunan Tuhan, lantas berdo’a.

Rabbana zhalamna anfusana wa in llam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin *)

Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS 7:23)

Pada akhirnya, masa lalu tak lebih dari sebuah gelas kosong yang berdebu. Tak berarti apa-apa. Tak ada yang istimewa. Tapi jika gelas tersebut jatuh berkeping-keping, terinjak, lalu tapak kaki kita terkena pecahannya dan meninggalkan luka, itu bisa jadi lain perkara. Berbekas, mungkin. Tapi hanya kelapangan hati yang bisa mengobati segalanya (*)

Wallahu’alam

*) Sejak ada peristiwa yang tak mengenakkan di masa lalu, peristiwa yang membuat saya sadar bahwa cinta Tuhan begitu besarnya, maka sampai sekarang saya rutin membaca doa ini :). Allah Maha Baik, Paling Baik, Yang Terbaik.

(via ragilliarach)

  • 18th May
    2013
  • 18
Allah, tutuplah hatiku dan tundukkanlah aku mendekat pada cintaMu…
Allah, kau yang telah tau segalanya dan telah tau apa yang akan terjadi nanti…
Allah, izinkan aku melupakan sesuatu yang harus aku lupakan dan berbahagia dengan apa yang kujalani kini
Allah, cintaMu sangat dekat bahkan mengalir…
Allah, maaf jika aku terlalu mencintainya kala itu
Allah, maafkan pula dia yang pernah kucintai jika dia membawaku dalam kesalahan… sesungguhnya kami tidak saling mencintai, aku hanya bertepuk sebelah tangan
Allah, jagalah aku dari cinta cinta sesaat dalam penantianku terhadap yang mencintaiMu…
Allah, jika suatu saat kau izinkan aku mencintai izinkanlah aku juga dicintai…
Allah, damaikan aku di bumiMu bersama pemuda pemudi yang memperjuangkan cinta mereka untukMu…
Allah, jangan izinkan aku letih untuk melangkah…
Allah, dahsyatkanlah penantian panjangku agar waktuku tak terbuang sia-sia…
Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang beruntung dan siapapun yang mencintaiku pun merasa beruntung…
Allah, perkuatlah pemikiranku menuju Engkau agar iman ini sampai titik akhir nanti…
Allah, kuatkan aku…
  • 18th May
    2013
  • 18
  • 17th May
    2013
  • 17

lifetoreset:

Foto Sampean


Ternyata pas periksa-periksa koleksi foto, saya sering foto-foto kaki sendiri hehe…

Foto 1, itu kalau gak salah diambil sewaktu menghadiri wisudaan teman
Foto 2, diambil waktu car free day jalan dago, ceritanya lagi hunting foto pas ikutan kelas fotograpi salman bareng kang Dudi Sugandi, wartawan koran Pikirin Rakyat

Foto 3, diambil sewaktu diklatSAR V KORSA, sewaktu pemberangkatan.

Foto 4, diambil waktu pendakian ke Gunung ciremai tahun lalu, kotor bangeut.

Foto 5, diambil waktu hunting foto pagi-pagi bareng Sari di taman lansia sebelah gedung sate.

Foto 6, diambil waktu latihan rapling di Salman, sendal saya dipinjem Lya, jadi saya pakai sepatu cantiknya Lya, kebesaran.
Foto 7, kalau gak salah diambil waktu bulan Ramadhan dua tahun lalu, di depan gedung kayu, itu yang sendalnya warna hitam dicurigai sebagai teh Yeni
Foto 8, foto di depan gedung kayu juga

Foto 9, foto kaki sewaktu rehat diklatSAR 3 di rancabuaya, Garut. Lihatlah kaki kami, dekil bangeut, ceritanya mau melangkah ke laut. Foto bareng teh Dea. Itu sendal saya beli di KBIH Salman, yang biasa dipakai buat jamaah haji Salman ketika naik haji. Mudah-mudahan setelah beli sendalnya bisa naik haji juga :D Aamiin.

Kesamaan dari semua foto ini selain foto kaki, sendal-sendal saya itu udah in memoriam semua, yang putih rusak, yang sendal lainnya berpindah tangan secara tak terduga ke tangan orang lain :)

Selanjutnya, mudah-mudahan alas kaki berikutnya setia menemani kemana pun kaki saya melangkah… :D

#eh mereka nanti minta pertanggungjawaban gak ya pas di akhirat? kemana aja udah saya bawa… @_@

teteeeeh, sama bangeeeeet…. suka motoin sandal sendiri jugaaaaa :D

  • 15th May
    2013
  • 15

One Piece mengajarkan banyak hal termasuk soal pembagian tugas dan kompetensi

Kata Ayah, Kenali diri sendiri. Lalu, kenali lingkungan kita. Kenali fungsi kita di lingkungan tersebut.

yes, they’re perfect! :D

(Source: orchestrion, via kurniawangunadi)

  • 14th May
    2013
  • 14
  • 13th May
    2013
  • 13

Pergi Ke Mars : Kau Mau Pergi Ke Mars ? Bolehkah Aku Menemanimu ?

johanriopamungkas:

Bila itu bahagia yang akan kau tuju 

Bila butuh cahaya ‘tuk menemanimu

Pilihlah aku

Sheila On 7

Pemberitahuan itu datang awal bulan Oktober.

“Assalamualaikum, Maaf Kak, saya tidak bisa meneruskan proses pernikahan kita. Karena ada hal yang belum saya selesaikan. Semoga Kakak paham.” Begitu bunyi pesan singkat Si A ke telepon selulerku.

Aku berpikir sejenak kemudian menghembuskan nafas serta berucap pelan ke diri sendiri. “Well, it happens before and now i have learned it so life must goes on” Kemudianmengirimkan balasan walau masih tak terima, “Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, baik, saya paham.”

Tapi, aku ternyata aku benar-benar masih belum menerima sepenuhnya. Aku bercerita kepada temanku yang merekomendasikan Si A ini dan ikut serta proses ta’aruf kami. Kemudian, dia menyarankan untuk bertanya kepada murabbiah (mentor/guru ngaji)-nya Si A. Aku juga memberitahu kedua orang tuaku, kata mereka, coba ditanyakan alasannya.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mengirim surel (e-mail) ke Si A dan bermaksud untuk mencoba melanjutkan proses pernikahan dengan Si A. Argumenku semuanya tinggal tunggu waktu saja bukan ? Tetapi, jawaban Si A yang sebenarnya sudah kuduga dalam hati kecilku, intinya dia masih menyukai ikhwan (lelaki) lain dan sudah berproses juga. Kubalas saja, “Nah, kalau begini sudah jelas, karena tidak ada alasan syar’i (khusus) untuk menolak saya sebenarnya, saya sudah menduga bahwa ada ikhwan (lelaki) lain, baik saya doakan anda berkah bersamanya.” Dan penjelasan murabbiah-nya juga hampir sama.

Maka, catat ini baik-baik saudaraku sesama lelaki juga buat saudariku para perempuan : PHP bisa dilakukan oleh semua orang, mau dia ikhwan dan atau cowok biasa, juga bisa dilakukan oleh akhwat dan atau cewek. Benarlah, kata Pram, kita harus adil sejak dalam pikiran, maka untuk para wanita berlaku adil lah bahwa kaum kalian juga bisa melakukan PHP. Oh ya, dengan ini aku tercatat dua kali di PHP-in, sama akhwat hehehe.

Pun tidak menjamin seorang akhwat itu, mengamalkan hadis: Bila ada seorang yang agamanya baik, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi. (HR. At Tirmidzi) Bahkan sudah lamaran, tinggal menunggu pernikahan, so semoga dengan ceritaku ini terbuka dan adil pemikiran kita, bahwa kita semua manusia biasa, bahwa PHP bisa dilakukan oleh siapa pun, hehehe.

Sementara itu, Naya juga tidak melanjutkan ta’aruf dengan duda tersebut, tidak cocok katanya. “Kak, makasih yah udah nyariin gue calon suami, tapi, maaf belum cocok, Kak.”

Kemudian, aku dan Naya kembali ke rutinitas biasa. Aku nyangkul, Naya kuliah. Aku juga tidak ingin berlama-lama memikirkan kegagalan proses kedua tersebut. Naya juga sepertinya biasa saja usai tidak cocok dengan duda itu.

Sampai suatu malam, tanggal 15 Oktober 2012, malam usai Felix Baumgartner mencetak rekor kecepatan dan ketinggian terjun, aku bermimpi pergi haji dengan seseorang, siapakah orang tersebut ? Bukan orang tua, bukan salah satu  dari tiga kakakku yang semuanya lelaki, bukan teman-teman inimilik2006, bukan teman-teman yang aku sudah lama kenal, tetapi, seseorang yang aku baru kenal selama tiga bulan.

Aku ragu apakah ini dari Allah atau dari setan. Karena Aku tidak sholat istikharah atau tidak dalam keadaan kanuragan (ruhiyah) tinggi. Aku masih melakukan hal-hal biasa, sholat wajib, dhuha, tilawah baca Qur’an, hanya menambah sholat sunnah sehabis Isya, yang tadinya 2 rakaat ba’da isya di masjid ditambah menjadi 2 rakaat usai sampai ke rumah serta 2 rakaat sebelum tidur.

Setelah hari Senin itu seharian aku berpikir. Kuputuskan untuk sholat istikharah kembali, selama beberapa hari masih dalam tahap peyakinan dan sholat sampai kemudian secara iseng chat dengan Akhyar di Facebook yang tadinya membicarakan soal Langit Sastra, majalah Katajiwa, partai, agama dan beberapa hal-hal tidak penting lainnya alias sampah, hahaha. 

JRP: “Eh, gua jadi mau cerita nih sama lo, yar, gua gak jadi nikah lagi,hihihi.”

MA:  ”Lah ngapa lagi lu coi ?”

JRP: “Yah, akhwatnya masih suka orang laen ternyata.”

MA: “HAHAHA. tenang akh Johan, masih banyak cewek yang lebih oke.”

MA: “Udah lu sama Naya aja.”

MA: “Seriusan gua, kalo tu anak harus diiket di Depok biar berkembang Depok,wkwkwk.”

JRP: “Hahaha, gua juga lagi istikharah nih”

MA: “Masih aja lu percaya mistik klenik.”

JRP: “Yah minimal gua tenang.”

JRP: “Ya udah gua off duluan coi, wassalam.”

MA : “Walaikumsalam gan.”

Esoknya Akhyar menelepon menanyakan apakah bisa bertemu di Perpustakaan Pusat, aku tidak bisa karena harus menjadi location manager untuk sebuah iklan, “Wah, gua harus ke lokasi shoot nih.”

Rupanya Akhyar mengajak bertemu dengan Naya, sembari membicarakan rencana pembukuan “Naira-Utara” sedikit dikilik oleh Akhyar tentang Naya yang mau menikah. 2 Hari kemudian bertemu dengan Akhyar di kontrakan Wahyu.

“Udah lu ama Naya aja, gua udah nanya-nanya sama Naya, lu udah siap Nay ? katanya udah, terus, mau yang kayak gimana, open mind, terbuka, make jeans, ketawa gua dia bilang gitu.” Akhyar langsung membuka percakapan.

“Iya sih, cuman dia kan udah tau gua kemaren lagi proses mau nikah, gimana yak ?” Kata dan tanyaku.

“Ya udah bilang ajah, itu bercanda atau lu bilang aja gak jadi, emang ama anak mana sih lu ?”

“Sama anak kampus yang mencetak guru.”

“Jah, UNJ, aduh standar lu rendah banget.”

“Hahaha, parah lu.”

“Udah lu ama Naya aja udah.”

Aku semakin yakin untuk melakukan proses menuju nikah sekali lagi.

Tepat dua minggu aku sholat istikharah. 31 Oktober 2012.

Aku berencana menelepon Naya besok pagi 1 November 2012. Namun…Sore-sore, ada WA dari Naya memberitahukan dia sudah mulai halaqah/mentoring lagi. Kami pun jadi mengobrol dan sedikit berdiskusi. Usai Maghrib aku berubah pikiran, aku memutuskan untuk propose Naya malam ini saja, khawatir besok tidak ada waktu untuk mengatakannya, minimal aku sudah menyatakan pikiran, perasaan dan keinginanku untuk menikah dengannya. Tapi………karena Maghrib aku masih di kantor kemudian aku pulang dan Isya di Masjid pinggir jalan kemudian sampai ke rumah aku mandi, sholat dua rakaat kemudian menyetel TV dan menonton Die Hard di Global TV, aku malah lupa untuk membeli pulsa dan menelepon Naya, usai Die Hard selesai aku baru ingat untuk membeli pulsa dan menelepon Naya, tapi jam sudah menunjukkan pukul 22.30, warung yang jual pulsa sudah pada tutup dan teman yang biasanya bisa aku utangi pulsa sedang habis saldonya.

Akhirnya aku mentweet, :Yang jualan pulsa selini masa ini tolong dong bales mention ini, penting, menyangkut masa depan.

Alhamdulillah, bang Haryanto Suharman membalas, :Bisa nih Jo, mau berapa ? ke mana ?

:25.000 ke 085710xxxx,nomor rekening abang berapa ?

:Udah yak,dah gak usah itung-itung gua sedekah ama Interisti yang lagi kalah :P

Hahaha,tapi,gak apa-apa deh,wah,terima kasih ya bang, abang menyelamatkan masa depan saya.

Aku pun mengirimkan pesan WA kepada Naya, “Aslmkm, Nay, masih idup ?”

“Masih, kenapa kak ?”

“Lu bsk kuliah gk ?”

“Gak kak, jadwalnya kosong.”

“Oke, saya mau ngomong serius sama Naya, boleh saya telepon ?”

“Eh, kenapa ? boleh.”

Kemudian aku menelepon Naya, “Assalamualaikum, Nay, Naya dulu tau kan, saya mau menikah, nah, ternyata saya gak jadi, calonnya membatalkan, nah, Naya mau gak proses sama saya ?” Aku berbicara secara cepat saja.

“Walaikum salam, eh, proses apa ya kak, maksudnya ?”

“Ya proses menuju pernikahan, ta’aruf.”

“Emmm, ini gue gak harus jawab sekarang kan ?” 

“Gak kok, silahkan berpikir, saya menelepon sekarang khawatir besok tidak sempat menyampaikan.”

“Okeh, gue mikir dulu ya kak.”

“Iyap, silahkan, oh ya alasan saya propose ke Naya, Insya Allah, karena Allah., itu ajah, baik silahkan Naya pikirkan, wassalam”

“Walaikum salam”. Tut, kusentuh layar “Tutup Telepon”

Dan kemudian setelah buku “Cinta di Ujung Jari” keluar, aku baru tahu ternyata dalam cerita Naira-Utara, kejadian ini hampir mirip dengan Ghazi yang mengajak Naira ta’aruf. Dan cerita itu sebenarnya sudah ditulis Naya sebelum bertemu aku. Sudah selesai di blognya. Aku bahkan tidak pernah membaca serial Naira-Utara sebelumnya. Maka, pada saat membaca itu aku tersenyum-senyum sendiri. So, bagi kalian yang ingin menulis cerita mimpi ideal, tulislah, suatu saat mungkin akan kejadian betulan. :)

Esoknya Naya mengirim Whatsapp Message :

N: Assalamualaikum, Kak, boleh nitip gak ?

J: Ws.wr.wb, nitip apa ?

N: Nitip masa depan gue… #eeeaaaa

Hahahaha, ada-ada saja.

J:Hahaha :))

N:Kak, boleh nanya sesuatu gak ?

J:Ya, bolehlah.

N:Kenapa lo milih gue ?

J:Karena Allah, alasan-alasan lain bisa dibuat-buat, bisa dicari-cari kemudian.

N:Iya, kak, gue gak tau, ke depannya gimana, tapi, gue udah nelepon ibuk dan bapak, mereka bilang oke. Maka, gue menuruti mereka, dan juga gue waktu ikut Sekolah Perempuan Annisa GAMAIS ITB, dapet hadis kalau ada lelaki baik-baik melamar maka terimalah dia, kalau tidak akan terjadi fitnah, jadi Bismillah, gue terima lo.

J:Alhamdulillah….

Demikianlah aku mempropose Naya dan awal kami mengawali proses menuju pernikahan.  Persiapan menuju pernikahan aku akan posting usai nikah saja yah. Sekarang soalnya sudah H-2…Doakan ya, para pembaca sekalian :)

  • 10th May
    2013
  • 10
  • 10th May
    2013
  • 10

wooo…. subhanallah… inilah indahnya Islam, sunnah Rasul pun indaaah banget, menentramkan hati dan tentu saja bermanfaat untuk manusia itu sendiri. 

(Source: palsyria, via mahdamahda)

  • 9th May
    2013
  • 09

Tulisan : Jodoh dan Kualitas

kurniawangunadi:

Ini menarik, tak satupun Allah mengatakan dalam Al Quran yang mulia bahkan Nabi dengan hadistnya yang menyatakan bahwa jodoh kita telah ditulis berupa nama seseorang. Bahwa Fulan akan berjodoh dengan Fulanah.

Beberapa dari kita juga ramai membicarakan tentang memperbaiki kualitas diri tanpa tahu apa yang mendasarinya. Bermodal yakin pada sebuah janji Allah saja. Bahwa perempuan baik-baik akan berjodoh dengan laki-laki baik-baik dan sebaliknya. Tanpa mempertimbangkan lagi dan bertanya, seperti apa penilaian dan kriteria baik tersebut menurut Allah.

Meski kita telah berupaya menghapalkan aneka surat dalam quran, shalat wajib dan sunah. Puasa senin-kamis. Apakah kita telah dinilai seorang yang teramat baik sehingga kita pantas mendapatkan seorang bidadari atau seorang pangeran?

Itulah yang Allah rahasiakan, bagaimana cara Allah memasangkan hamba-hamba-Nya. Seperti pada pembuka tulisan, tak satupun dari kalimat quran dan hadist yang mengatakan bahwa jodoh telah ditetapkan berupa seseorang dengan seseorang.

Allah menjodohkan “kualitas”.

Mari saya ajak bertamasya pikiran ala kurniawangunadiologi.

Fyi, saya termasuk orang yang percaya bahwa kalimat al quran akan dipahami orang secara berbeda-beda tergantung pada kadar iman dan kadar ilmunya. Serta tujuannya.


QS An Noor ayat 3

Laki-laki berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.

QS An Noor ayat 26

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula). dan wanita-wanita baik-baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik-baik (pula). ……

Perhatikan, Allah memasangkan kualitas

Pezina/Musyrik «——» Pezina/Musryik

Keji «——» Keji

Baik-baik «——» Baik-baik

Mukmin «——» Mukmin

Mari kita perhatikan kode dari Allah ini. Dalam banyak kasus di masyarakat kita. Kita menjumpai ada seorang perempuan yang baik tapi suaminya jahat amit-amit jabang bayi.

Kita juga mendapati ada seorang laki-laki yang maaf
( cacat secara fisik baik itu pendek, dsb ) tapi mendapatkan perempuan yang normal dan baik.

Anomali kan ? itulah Allah yang maha rahasia. Cara kerja Allah tidak pernah bisa dipahami dengan logika manusia bukan? Karena logika kita sendiri diciptakan oleh-Nya.

Mari lagi-lagi saya ajak bertamasya pikiran.

Allah mengajarkan kita melalui berbagai anomali, jika kita dilahirkan normal dengan keadaan fisik yang sempurna. Mengapa harus ada yang lahir cacat padahal Allah bisa dengan mudah melahirkan mereka dalam keadaan yang sama seperti kita. Jawabannya : agar kita berpikir - belajar - memahami.

Sama pula dengan jodoh tadi.

Allah sama sekali tidak mengatakan bahwa Kurniawan Gunadi akan berjodoh dengan siapa misalnya. Tapi yang dijodohkan adalah kualitas kurniawan gunadi saat ini berjodoh dengan kualitas seorang perempuan di seberang sana.

KUALITAS !

Nah, yang udah sering bicara tentang meningkatkan kualitas diri.

Ada satu hal yang sekali lagi harus dipahami dengan tepat dan dalam. Bahwa ukuran kualitas kita bukanlah kita yang menilai, tapi Allah. Dan kualitas itu saya pahami diukur secara menyeluruh. Total.

Bisa jadi kamu adalah perempuan yang amat sangat menutup aurat - tilawahnya bagus - hapalannya banyak dan segala kebaikan lainnya tapi Allah menjodohkanmu pada seorang laki-laki yang sebaliknya, hafalannya buruk - bacaan qurannya kurang lancar - suka melamun.

Lantas, apakah kamu serta merta menolak semua “takdir” itu. Maka seperti melihat sebuah daun, jika orang kebanyakan hanya melihat daun dari tampak atas, mari kita lihat daun dari bahwa dimana tulang-tulang daun begitu menonjol, permukaan yang lebih kasar daripada permukaan atasnya.

Allah menjodohkan kualitas itu secara total. Apakah kamu melihat bahwa laki-laki tadi memiliki kebaikan dalam sisi yang lain. Laki-laki tersebut amat bertanggung jawab pada hidupmu. Yang setiap bertemu pada ayah-ibumu perkataannya lembut dan selalu mencium tangan mereka.

Sama halnya pada laki-laki sok idealis yang menginginkan istri layaknya Khadijah r.a. Apakah dia telah sepadan dengan Nabi SAW?

Jika perempuanmu ini tidak pintar memasak, pencemburu yang amat sangat, cerewet dan sangat teliti. Agamanya belum baik, bahkan mungkin tingkat pendidikan formalnya jauh dibawahmu. Atau gara-gara perempuan tersebut belum menutup aurat dgn baik, belum berkerudung seperti harapanmu misalnya. Apakah kamu sebagai laki-laki serta merta menolak semua itu. Tanpa mau sedikitpun melihat kualitasnya yang lain. Dia yang sangat menyayangi anak-anak, dengan ketelitian dan cerewetnya dia selalu mengingatkanmu dalam hal-hal baik. Dia tidak bisa memasak bukan sebuah masalah besar bukan ? Kamu tetap masih bisa makan.

Ingat saja Allah itu bilang, Arrijalu Qowwamuna ‘Alannisa | (QS. An Nisa : 34). Kalian (laki-laki) sengaja diciptakan untuk menjadi pemimpin bagi mereka (perempuan), maka jadilah pemimpin yang baik, yang melindungi, yang membimbing, yang bijak. Pemimpin yang baik juga harus mendengarkan orang yang dipimpinnya ! Bukan begitu?

Soal kualitas, itulah. Kita harus melihat kualitas jodoh kita nanti secara menyeluruh, bukan secara parsial. Manusia jenis kita ini lebih suka melihat seseorang dari sisi buruknya lantas dengan itu kita menggugurkan segala sisi baiknya.

Kita tentu memiliki kriteria masing-masing dan tentang seperti apa jodoh yang kita harapkan. Ya itu manusiawi.

Mari kita perbaiki kualitas diri kita dan tetaplah berpegang teguh pada satu keyakinan. Bahwa jodoh kita nanti adalah orang yang kualitas totalnya setara dengan kita. Kualitas yang Allah nilai, bukan yang manusia nilai.

Terus ada yang tanya, gimana kalau cerai ? Berpikir balik saja, berarti kualitas mereka tidak lagi setara. Suami-istri tidak mampu mempertahankan kesetaraan kualitas secara bersama. Cerai adalah ketika kualitas keduanya jurangnya sudah terlampau jauh. Pernikahan adalah sebuah lembaga bagi suami-istri untuk saling dan sama-sama meng-upgrade kualitas nya. Bukan hanya salah satu :)

Gimana kalo membujang sampai mati ? Ada 2 kasus: pertama orang yang sengaja men-single-kan diri. Telah jelas bahwa mungkin Allah melihat bahwa kualitas dirinya telah jatuh hingga tak satupun perempuan/laki2 di muka bumi ini yang kualitasnya sama dengannya. Nabi sendiri mengatakan bahwa, tidak termasuk umatnya bagi orang yang membenci sunahnya. Kasus kedua, orang yang tak kunjung bertemu jodohnya meski telah berusaha mencari tapi tidak ketemu-ketemu sampai mati. Karena hukum nikah itu bukan fardhu’ain. Allah lebih memahami perkara ini, saya sendiri belum menemukan pemahaman yang tepat mengenai anomali yang satu ini. Bisa jadi Allah mempersiapkan untuknya yang lain di akhirat sebagai pengganti atas keimanannya dan ketaqwaannya. Atau wallahu’alam. Semoga Allah melindungi saya dari dosa atas jawaban yang seenaknya ini.

Allah merahasiakan jodoh agar kita mengusahakannya kan? Kita mau ngambil dengan jalan halal atau haram, kitalah yang pilih. Jodoh tidak akan tertukar, karena seolah-olah kita sendirilah yang “menentukan” keputusan Allah tersebut.

Manusia seperti kita ini sejak lahir telah diilhami untuk memilih jalan baik atau buruk. Saya pernah mengatakan bahwa pacaran tidak serta merta membuat jodoh itu dekat,pun jomblo tidak akan membuat jodohmu menjadi jauh.

Ingat sekali lagi. Jodoh bukanlah perkara pasangan nama, namun pasangan kualitas. Selamat memperbaiki diri. :D

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. (Mengapa?) Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Albaqarah: 216).

Bandung, 9 Mei 2013