Rainbow afterain

here I am

  • 31st May
    2014
  • 31
  • 28th April
    2014
  • 28
CeritaJika #49 : Jika Istrimu Seorang Anak Bungsu

Anak terakhir atau familiar disebut bungsu. Dengan status tersebut dikeluarga, memang akan kau temui sosok manja karena kaya limpahan kasih sayang. Kehadirannya akan selalu dirindukan. Sosok anak kecil yang tak pernah dewasa, padahal selalu mati-matian berusaha mematahkan asumsi tersebut.

Saya ga manja kok, hehe :P

  • 8th April
    2014
  • 08
  • 7th April
    2014
  • 07
Kabar Untuk Anda

kuntawiaji:

Saya punya kabar untuk Anda: umur Anda mungkin tinggal hari ini saja
Teman-teman dan rekan kerja akan Anda tinggalkan di dunia
Diri Anda hanya akan tinggal nama
Kenangan-kenangan indah masa kecil akan terlupa

Saya punya kabar untuk Anda: umur Anda rasanya hanya sampai sore hari ini saja
Deadline…

  • 19th March
    2014
  • 19

Menyiapkan Anak Laki-laki Mimpi Basah (Aqil Baligh).

by Elly Risman Ykbh


Dear Parents…
Tahukah anda, bahwa anak laki-laki yang belum baligh dijadikan
sasaran tembak bisnis pornografi internasional ?
Mengapa demikian ?
Karena anak laki-laki cenderung menggunakan otak kiri dan alat
kemaluannya berada di luar. Di berbagai media (Komik, Games,
PS, Internet, VCD, HP), mereka menampilkan gambar-gambar
yang mengandung materi pornografi, melalui tampilan yang dekat
dan akrab dengan dunia anak-anak.
Dengan berbagai rangsangan yang cukup banyak dari media-
media tersebut, dan asupan gizi yang diterima anak-anak dari
makanannya, hormon testosterone di dalam tubuh bergerak 20
kali lebih cepat. Sehingga, testis mulai memproduksi sperma. Dan
kantung sperma menjadi penuh. Karena itu, anak laki-laki kita
dengan mudahnya mengeluarkan mani lebih cepat dari yang
lainnya dan kadang-kadang, dengan banyaknya ‘rangsangan’ dari
berbagai media tersebut, mereka tidak perlu dengan bermimpi!


Dear Parents…
Menyiapkan anak kita memasuki masa baligh adalah tantangan
besar bagi kita sebagai orang tua. Kelihatannya sepele, namun
sangat penting bagi mereka untuk mengatahui seputar masa
baligh agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki
seksualitas yang sehat, lurus dan benar. Memang banyak kendala
yang kita hadapi : tabu & saru, bagaimana harus memulainya,
kapan waktu yang tepat untuk memulai, sejauh mana yang harus
kita bicarakan, dan lain-lain. Memang tidak mudah untuk
mendobrak kendala-kendala tersebut, namun jika kita tidak
melakukannya sejak dini, bisa jadi mereka mendapatkan
informasi-informasi yang salah dari sumber yang tidak jelas.
Jadi, salah satu kewajiban orang tua adalah menyiapkan putra
putrinya memasuki masa puber / baligh. Biasanya anak
perempuan yang lebih sering dipersiapkan untuk memasuki masa
menstruasi. Jarang, para ayah yang menyiapkan anak laki-lakinya
menghadapi mimpi basah. Ini adalah tanggung jawab Ayah untuk
membicarakannya kepada mereka.


Mengapa harus ayah ? Karena anak laki-laki yang berusia di atas 7
tahun, membutuhkan waktu yang lebih banyak dengan ayahnya,
dari pada dengan ibunya. Dan jika bicara seputar mimpi basah,
ibu tentu tidak terlalu menguasai hal-hal seputar mimpi basah
dan tidak pernah mengalaminya bukan ? Namun, bila karena satu
hal, ayah tak sempat dan tidak punya waktu untuk itu, ibu-lah
yang harus mengambil tanggung jawab ini.


Tips Menyiapkan Anak Laki-laki Menghadapi Mimpi Basah
Untuk pertama kali, kita akan membicarakan tentang apa itu
mimpi basah, dan bedanya mani dengan madzi, dan apa yang
harus dilakukan jika keluar cairan tersebut. Agar anak bisa
membedakan antara mani dengan madzi, persiapkan terlebih
dahulu alat-alatnya :
- Untuk mani : Aduk kanji/tepung sagu dengan air, jangan terlalu
encer, hingga masih ada butir-butir kecilnya. Beri sedikit bubuk
kunyit, hingga menjadi agak kuning. Taruh di wadah/botol.
- Untuk madzi : Beli lem khusus, seperti lem UHU.
Berikutnya siapkan waktu khusus dengan anak untuk
membicarakannya. Apa saja yang harus disampaikan :
- Pertama, sampaikan kepada mereka bahwa saat ini mereka
telah tumbuh berkembang menjadi remaja, dengan adanya
perubahan-perubahan pada fisik mereka. Dan sebentar lagi
mereka akan memasuki masa puber / baligh.
Contoh : “Nak.. ayah lihat kamu sudah semakin besar saja ya..
Tuh coba lihat tungkai kakimu sudah semakin panjang, suaramu
sudah agak berat. Waah..anak ayah sudah mau jadi remaja nih.
Nah, ayah mau bicarain sama kamu tentang hal penting
menjelang seorang anak menjadi remaja atau istilahnya ia
memasuki masa puber / baligh”
- Di awal, mungkin mereka akan merasa jengah dan malu.
Namun, yakinkan kepada mereka, bahwa membicarakan masalah
tersebut merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua, yang
nanti akan ditanyakan oleh Allah di akhirat.
- Ketika berbicara dengan anak laki-laki yang belum baligh,
gunakan the power of touch.
Sentuh bahu atau kepala mereka. Hal ini telah dicontohkan oleh
Rosulullah Muhammad yang sering mengusap bahu atau kepala
anak laki-laki yang belum baligh. 


Hal ini dapat menumbuhkan keakraban antara ayah dengan anak. Jika sudah baligh, mereka tidak akan mau kita sentuh.
- Gunakan juga jangkar emosi (panggilan khusus, yang bisa
mendekatkan hubungan kita dengan anak), misalnya: nak, buah
hati papa, jagoan ayah, dan lain-lain.
- Sampaikan kepada anak kita :
Tentang mimpi basah & mani
• Bahwa karena ia telah memiliki tanda-tanda / ciri-ciri memasuki
masa puber, maka pada suatu malam nanti, ia akan mengalami
mimpi sedang bermesraan dengan perempuan yang dikenal
ataupun tidak dikenal. Dan pada saat terbangun, ia akan
mendapatkan cairan yang disebut mani. (Kita beri tahukan kepada
mereka contoh cairannya, yaitu cairan tepung kanji yang telah kita
persiapkan). Peristiwa itu disebut mimpi basah.
• Jika seorang anak laki-laki telah mengalami mimpi basah,
tandanya ia sudah menjadi seorang remaja / dewasa muda. Dan
mulai saat itu, ia sudah bertanggung jawab kepada Tuhan atas
segala perbuatan yang ia lakukan, baik berupa kebaikan maupun
keburukan. Pahala dan dosa atas perbuatannya itu akan menjadi
tanggungannya. Dalam agama Islam, ia disebut sudah mukallaf.
• Beritahukan kewajiban yang harus dilakukan setelah mengalami
mimpi basah (sesuai dengan ajaran agama masing-masing).Dalam
Islam, orang yang mimpi basah diwajibkan untuk mandi besar /
mandi junub, yaitu :
1. Bersihkan kemaluan dari cairan sperma yang masih menempel.
2. Cuci kedua tangan.
3. Berniat untuk bersuci (“Aku berniat mensucikan diri dari
hadats besar karena Allah”). Minta ia untuk melafalkannya.
4. Berwudhu.
5. Mandi, minimal menyiram air ke bagian tubuh sebelah kanan
tiga kali, dan ke bagian sebelah kiri sebanyak tiga kali, hingga
seluruh anggota tubuh terkena air.
6. Cuci kaki sebanyak tiga kali.
• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa
yang telah kita sampaikan.


Tentang madzi
• Jika ia melihat hal-hal / gambar-gambar yang tidak pantas dilihat
oleh anak (gambar yang tak senonoh), maka bisa jadi, ia akan
mengeluarkan cairan yang disebut madzi. (Kita beri tahukan
kepada mereka contoh cairannya, yaitu lem UHU).
• Cara membersihkannya cukup dengan : mencuci kemaluan,
mencuci tangan lalu berwudhu.
• Ingatkan kepadanya, jika ia tidak melakukannya, ia tidak bisa
sholat dan tidak bisa membaca Al Qur’an.
• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa
yang telah kita sampaikan.
Hal penting yang harus kita ingat sebelum membicarakan masalah
ini kepada anak adalah kita berlatih dahulu bagaimana cara
menyampaikannya. Mengapa ? Agar komunikasi yang akan kita
lakukan tidak tegang, dan berjalan dengan hangat. Agar anak
merasa nyaman dan ia dapat menerima pesan yang kita
sampaikan dengan baik.


Selamat mencoba …


  • 16th March
    2014
  • 16
  • 7th March
    2014
  • 07
  • 7th March
    2014
  • 07
  • 10th February
    2014
  • 10
  • 12th January
    2014
  • 12

Ibu Profesional

laninalathifa:

“Sebab nasib peradaban berada di tangan para ibu.” (Superb Mother)

Note ini adalah resume seminar pendidikan anak bersama Ibu Septi Peni Wulandari, founder Institut Ibu Profesional. Seminar ini diselenggarakan oleh Muslimah Center Undip di Masjid Kampus Undip pada hari Sabtu, 11 Januari 2014. Selamat menyimak, semoga bermanfaat ya. :)

Keteladanan berbicara lebih keras daripada sekedar kata-kata. Kalo ga salah sih gitu ya bunyi kutipan dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais. Ternyata, begitulah seharusnya pola pendidikan untuk anak-anak. Mengutamakan gerakan yang benar daripada sekedar kata-kata.

Prolog yang disampaikan Ibu Septi Peni Wulandari dalam seminar parentingnya kali ini menjelaskan bahwa ada tiga poin kunci melejitkan potensi anak. Pertama, berupa gerakan atau praktik nyata, bukan sekedar kata-kata. Sebab anak-anak akan lebih banyak meniru daripada mendengarkan. Kedua, hadapilah anak-anak dengan senyuman dan wajah ceria. Pastikan bahwa seorang ibu harus dalam kondisi good mood saat akan berhadapan langsung dengan anak-anak. Jika mood sedang tidak baik, maka menghindarlah dari anak-anak sementara waktu, kemudian kembalilah kepada mereka dalam kondisi yang sudah kembali ceria. Dan ketiga, menjiwai kejiwaan anak-anak. Sebab anak-anak membutuhkan teman bermain yang membuat mereka merasa nyaman.

Di awal materi, beliau pun sempat bercerita sedikit soal proses pernikahannya. Kala itu, sang suami melamar beliau dengan kata-kata,

“Saya ingin nantinya anak-anak saya dididik oleh ibunya, bukan oleh orang lain, sekalipun itu kakek atau neneknya sendiri.”

Nah, gegara “ditembak” pake kalimat itu, Bu Septi rela ga bekerja, padahal saat itu SK PNS beliau sudah turun. Yap, kita tau sendiri gimana perjuangannya mendapatkan SK PNS. Dan pastilah bukan keputusan yang mudah saat beliau lebih memilih menjadi ibu rumah tangga. Tapi tekad beliau terlanjur membaja. Beliau memilih mengabdikan diri menjadi pegawai rumah tangga. Wuwuwu, keren dan so sweet bangetlah. Heuheu.

Dor! Hayo, jangan mupeng! Yang penting, persiapan diri aja dulu. :p

Lanjut ya, Temans. Kalo ngobrolin topik pernikahan, bisa kesasar jauh ini nanti isi artikelnya. :D

Di Indonesia, ternyata ibu rumah tangga masih dianggap sebelah mata. Karena label IRT berarti wanita yang ga punya pekerjaan, alias pengangguran. Oleh sebab itu, “karir” sebagai IRT di Indonesia bukan karir yang prestisius, sehingga masih banyak disepelekan.

Nah, ada tips nih dari Bu Septi. Beliau menyampaikan bahwa menjadi IRT bukanlah pekerjaan mudah, meskipun orang-orang masih memandangnya sebelah mata. Bisa dibilang, IRT adalah sebuah profesi yang membutuhkan profesionalitas seorang perempuan dalam mengabdikan dirinya bagi keluarga. Seorang wanita yang memutuskan menjadi IRT harus ada rasa bangga dulu dengan profesinya, sebab hal itulah yang nanti akan membantunya “berkarir” dengan lebih enjoy, tanpa merasa tertekan.

Seven to Seven (7 to 7), Apa Artinya?

Tips dari Bu Septi biar IRT menghargai karirnya sebagai IRT adalah 7 to 7. Maksudnya, menanggalkan baju daster dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh malam. Masih belum ngeh ya? Hihi. Jadi gini, Dear. Seorang IRT seharusnya memposisikan dirinya selayaknya wanita karir yang bekerja di kantor. Bedanya, kantor ibu rumah tangga adalah di dalam rumahnya sendiri. Jadi, selayaknya bekerja di kantor, tetaplah berpakaian rapi dan menarik meskipun di dalam rumah sendiri, karena rumah adalah kantor kita nantinya. Kemudian, mungkin perlu juga nih seorang IRT punya kartu nama dengan mencantumkan posisi pekerjaannya sebagai Manajer. Yap, manajer rumah tangga, alias ibu rumah tangga. Tujuannya, biar mindset kita terbiasa bahwa menjadi IRT adalah karir yang prestisius. :)

Membangun Komitmen: Belajar Seumur Hidup

Sebuah keluarga yang masing-masing anggota keluarga memiliki latar belakang pendidikan tinggi seharusnya membangun komitmen di awal perjalanan rumah tangganya. Komitmen itu adalah dengan menanggalkan titel pendidikan anggota keluarga. Bangunlah kesadaran antar anggota keluarga bahwa titel suami/istri/anak yang sesungguhnya adalah almarhum/almarhumah. Jadi, bersiaplah belajar di universitas kehidupan, sebab sekolah formal pun bagian dari siklus kehidupan. Komitmen seperti ini akan membantu anggota keluarga untuk membangun kesadaran bahwa belajar adalah aktivitas seumur hidup, bukan semata-mata lulus, wisuda, mendapat gelar kesarjanaan, kemudian merasa selesailah kewajiban belajar mereka.

Empat Tahapan Menjadi Ibu Profesional

Institut Ibu Profesional yang diprakarsai oleh Ibu Septi Peni Wulandari ini meringkaskan sedikitnya empat kurikulum utama untuk menjadi seorang Ibu Profesional, yaitu:

1. Bunda Sayang

Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:

  1. Komunikasi jernih
  2. Anak mandiri
  3. Anak berprestasi
  4. Anak pembelajar

2. Bunda Cekatan

Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:

  1. Manajemen waktu
  2. Finansial keluarga
  3. Rumah elok
  4. Safety riding/driving
  5. Home team
  6. Dapur ceria
  7. Dokumentasi digital
  8. English community

3. Bunda Shalihah

Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:

  1. Leadership for mommies
  2. Train the trainers
  3. Public speaking
  4. Professional grooming
  5. Sharing community

4. Bunda Produktif

Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:

  1. Master mind
  2. Rumah produktif
  3. Jejaring usaha
  4. Bunda pialang

“Sebenarnya bukan orang tua yang mendidik anak, tetapi anaklah yang secara tidak langsung mendidik orang tuanya.”

Beliau sempat mengurai sedikit pengalamannya saat menemukan bakat dan minat anak-anaknya. Setiap anak memiliki bakat, hobi, dan kesukaan masing-masing. Tugas orang tua adalah mengoptimalkan potensi itu agar mereka menjadi ahli di bidang yang mereka gemari. Beliau juga menceritakan kisah anak sulungnya yang berhasil melanjutkan studi di luar negeri (Singapura) pada usia 15 tahun tanpa ijazah pendidikan di Indonesia. Dan putrinya tersebut juga berhasil membiayai sendiri kebutuhan hidupnya selama tinggal di negeri orang. Semua itu berbekal ilmu kemandirian yang diajarkan sang bunda.

“Merangsang anak untuk dapat hidup mandiri di usia 16 tahun adalah dengan ‘mendoktrin’ mereka sejak usia 0 – 12 tahun dengan kisah-kisah para sahabat Nabi yang berhasil berkarya di usia muda.”

Anak Belajar Apa?

Setidaknya ada empat hal dasar yang dipelajari anak, yaitu:

  1. Intellectual curiousity atau rasa ingin tahu
  2. Creative imagination atau kemampuan berimajinasi yang tinggi
  3. Art of discovery and invention atau kemampuan untuk menemukan dan atau menciptakan sesuatu yang baru
  4. Noble attitudes atau akhlak yang mulia

Bagaimana Anak Belajar?

  1. Bermain
  2. Memaknai aktivitas sehari-hari
  3. Mengerjakan “proyek” tertentu
  4. Nyantrik atau belajar langsung pada orang/ahlinya (dilakukan saat usia anak > 9 tahun)

Tips Mengetahui Potensi Anak

  1. Usia 0 – 8 tahun pola belajar anak adalah bermain (bermain sambil belajar)
  2. Usia 9 – 12 tahun pola belajar anak adalah kegiatan non pelajaran
  3. Usia 12 – 15 tahun mulai memfokuskan belajar pada kegiatan yang ia suka
  4. Pada usia 16 tahun, bantu anak mengembangkan hobi/minat/bakatnya dan rangsang kemandiriannya untuk dapat menghasilkan income dengan hobinya tersebut

Pentingnya Manajemen Waktu Ibu Rumah Tangga

Seorang IRT harus berlatih memanajemen waktu, yaitu dengan membagi waktunya untuk ketiga hal di bawah ini:

  1. Waktu untuk meningkatkan potensi diri
  2. Waktu untuk mengurus keluarga
  3. Waktu untuk diri sendiri (refreshing)

Penutup

Menjadi ibu rumah tangga harus dijalani dengan tulus dan penuh rasa bahagia, tetapi bagaimana dengan wanita yang hidup underpressure, misalnya karena ditelantarkan suaminya?

“Percayalah, bahwa wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik pula. Begitupun sebaliknya. Jadi, jika kita wanita baik-baik, tetapi suami kita ternyata tidak, maka boleh jadi Allah menguji kebaikan kita dengan kesabaran menghadapinya. Kebaikan dari Allah itu bisa berupa anugerah maupun ujian.”

***

Testimoni setelah mengikuti seminar: Wow banget! Saya jadi malu sama diri sendiri. Ngerasa belum apa-apa banget untuk menjadi seorang ibu profesional. Soalnya ternyata menjadi seorang ibu itu ga gampang, apalagi ibu profesional. Suerlah!

Kuncinya tiga: Belajar, belajar, belajar. Semoga nantinya kita dimampukan menjadi ibu profesional ya. Aamiin. Semangat para calon ibu! :)

#rebloggariskeras